Kamis, 17 November 2011

Pengharapan Sejati

Adalah wajar jika di dalam hidup seseorang mempunyai sesosok figur yang dikaguminya, bahkan menjadi panutan di dalam hidupnya. Manusia setelah jatuh ke dalam dosa yang sudah tidak dapat secara langsung bersekutu bersama TUHAN Allah diberikan seseorang yang menjadi perwakilan TUHAN di dunia. Orang tua adalah wakil sah TUHAN Allah di dunia yang sementara ini yang sebenarnya bertanggung jawab untuk membawa anaknya kembali kepada TUHAN.

Secara fakta, justru hal ini hasilnya malahan bertolak belakang, justru banyak orang tua dewasa ini menjadi batu sandungan buat anak-anak mereka percaya kepada TUHAN. Kegagalan rumah tangga menjadi penyebab hilangnya figur orang tua, baik papa maupun mama di mata anak yang membutuhkan teladan. Karena itulah, anak-anak yang tidak menemukan figur teladan orang tua seringnya tumbuh mencari figur idola di luar keluarga. Setan yang selalu ingin tampil menjadi pahlawan kesiangan seringkali "berhasil" untuk menciptakan figur-figur hero dan superhero yang semakin lama semakin membuat dunia terpikat. Satu per satu figur pahlawan dimunculkan untuk meracuni dunia ini, dan akhir kisah, manusia menjadi susah untuk percaya kepada TUHAN.

Gambaran sosok idola yang mengisi jiwa mereka membuat keamanan palsu di dalam jiwa mereka walaupun di dalam sanubari terdalam, mereka sebenarnya tidak menemukannya.
Jika di dunia setan menciptakan ribuan bahkan mungkin jutaan tokoh idola yang berhasil menggait dan menyesatkan banyak orang, di dunia rohani, seharusnya ada jawaban bagi persoalan ini.

Para hamba TUHAN selayaknya menjadi contoh dan teladan untuk membawa jemaat-jemaat untuk hanya bergantung kepada TUHAN Allah semata-mata. Faktanya, masih ada banyak hamba TUHAN yang justru menjadi idola bagi jemaat-jemaat di samping TUHAN. Seharusnyalah tidak terjadi di gereja TUHAN.

Semua orang Kristen mesti sadar, di dunia yang sementara ini, tidak ada yang ideal. Jikalau seseorang menggantungkan hidupnya kepada manusia lain, dipastikan bahwa orang tersebut akan mengalami kekecewaan total. Meletakkan ekspektasi yang tinggi terhadap seseorang akan membuat orang tersebut menetapkan standard-standard yang tinggi terhadap orang yang dikaguminya sehingga jika ada sedikit saja kekeliruan yang dilakukan orang yang diidolakan tersebut, perasaan kagum tersebut akan runtuh dalam sekejap.

Di Alkitab, orang-orang Israel begitu mengidolakan Abraham, Musa dan Daud sampai sekarang. Di kekristenan, banyak orang mengidolakan Petrus dan Paulus karena kedua sosok ini diyakini sebagai ujung tombak perintisan gereja awal. Petrus rasul orang Yahudi, Paulus rasul orang non Yahudi. Begitu banyak peristiwa fenomenal yang terjadi, yang keliatannya adalah karena kehebatan kedua rasul tersebut. Satu momen yang paling dianggap sebagai salah satu peristiwa yang paling bersejarah bagi gereja adalah peristiwa pertobatan massal di Yerusalem.

Pada saat itu, pengkhotbahnya adalah "Petrus sang nelayan". Sadar tidak sadar, orang akan berkata bahwa Petrus itu dahsyat. Ya, dia memang dahsyat, tetapi saya secara pribadi sangat meyakini bahwa peristiwa pertobatan massal tersebut hanyalah bagian puncak dari rangkaian acara-acara yang telah dirancang oleh TUHAN Allah.

Setelah lebih dari 4 abad orang Israel tidak dilawat oleh TUHAN melalui nabi-nabi yang menyampaikan Firman TUHAN, maka yang memecahkan kebuntuan tersebut adalah Yohanes Pembaptis. Seruannya di padang gurun yang telah membawa banyak pertobatan adalah peristiwa yang memulai rangkaian acara yang telah disusun oleh Tuhan Allah untuk membawa pertobatan demi pertobatan yang terjadi di zaman gereja mula-mula. Begitu banyak orang yang datang dari berbagai pelosok di Yerusalem menandakan pra-sejarah gereja. Dari rakyat jelata sampai kepada orang Farisi, banyak orang yang mulai membuka hati yang ditandai dengan baptisan air di sungai Yordan.
Kemudian di zaman yang sama, muncul Yesus dari Nazaret yang kemudian melanjutkan estafet acara yang dirangkaikan oleh TUHAN Allah. Justru karya-karyanya yang selama 3,5 tahun itulah yang menjadi bagian inti yang tidak boleh dilupakan. Pengabaran Injil melalui pengajaran serta tanda-tanda dan mukijzat yang dilakukan oleh Yesus semakin membuka hati dan pikiran orang-orang Israel tentang Mesias yang dijanjikan di dalam kitab Suci. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa walaupun terjadi pro dan kontra, banyak orang Israel yang mulai membuka hatinya terhadap Yesus. Ratusan bahkan ribuan orang yang selalu berbondong-bondong mengikutiNya untuk melihat, mendengar dan merasakan pengajaran dan mendapatkan mukjizat semakin membuat pengabaran Injil tidak hanya menetap di Yerusalem. Injil tersebar pertama kali bukan orang para rasul, tetapi oleh 3 orang majus dari timur yang kembali ke daerah asal mereka. Kesaksian tentang lahirnya Mesias pastilah telah menaburkan benih-benih iman di dalam hati orang-orang yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Para pesakitan yang disembuhkan dari sakit penyakit juga telah menjadi pengabar-pengabar Injil yang sesuai.
Itulah sebabnya ada beberapa orang yang disembuhkan dari penyakit dan dilepaskan dari setan tidak diizinkan oleh Yesus untuk mengikuti diriNya ke Yerusalem, tetapi justru dimintai kembali ke daerah-daerah asal supaya menjadi kesaksian. Dari skenario-skenario tersebut semakin memperjelas bahwa sudah berbagai persiapan yang telah dikerjakan oleh TUHAN Allah terhadap petobat-petobat yang akan menerima Yesus Kristus sebagai TUHAN telah dimulai dan dilaksanakan.

Peristiwa di Golgota adalah peristiwa yang paling penting walaupun diselimuti dengan kisah dramatis yang berujung kepada penyesalan hati para penyiksa dan para penghujat yang memintai Yesus untuk disalibkan.
Terbukti setelah kematianNya di atas kayu salib, banyak sekali orang yang menyesal sambil memukul dada mereka. Ada juga mulut yang mengaku bahwa "Dia adalah orang benar". Benih-benih pertobatan mulai nampak setelah kisah dramatis tersebut.
Diperkuat lagi dengan kebangkitanNya dari kematian semakin menambah vitamin iman bagi Petrus dan kawan-kawan untuk semakin tidak ragu akan keTUHANan Yesus. Rentetan peristiwa inilah yang membuat Petrus keliatan dahsyat dan mampu untuk mempertobatkan ribuan jiwa dalam satu hari. Tetapi secara tidak sadar, ada sutradara terbesar yang mendalangi kedahsyatan Petrus. Dan jangan kita lupa pula bahwa ada seorang pribadi yang berkuasa di dalam diri Petrus, yaitu Roh Kudus yang memenuhi nelayan ini sehingga secara tidak sadar orang mengangkat dua jempol buat dirinya.

Dari peristiwa inilah, kita mendapatkan contoh bahwa manusia jangan hanya bersandar kepada hal-hal yang keliatan dan juga kepada manusia lainnya. Paulus pun menegur jemaat Korintus yang mulai mengalami perpecahan dengan mulai mengidolakan dirinya dan Apolos. Biarlah mata kita selalu hanya memandang kepada Yesus Kristus yang telah diberikan oleh Allah Bapa sebagai satu-satunya panutan kita.
Dia adalah pokok keselamatan kita karena Dia telah menjadi teladan yang sempurna bagi semua orang percaya.

Untuk itulah saudara-saudaraku, mari senantiasa kita hanya meneladani apa yang baik dari figur-figur yang kita "idolakan", tetapi tidak menjadikan mereka sebagai "idola sejati".
Pengharapan kepada manusia mengecewakan, tetapi pengharapan kita tidak sia-sia, karena Roh Kudus yang bekerja di dalam diri kita.

Hanya Dialah yang layak mendapatkan penghormatan dan penyembahan dari kita semua, Allah Bapa yang telah mengirimkan anakNya yang tunggal kepada dunia dan kepada Yesus Kristus yang layak menerima puji-pujian dari kita semua.
Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar