Rabu, 17 November 2010

Iman Setengah-Setengah = Tidak Beriman (Yohanes 4:46-54)


Yesus menyembuhkan anak pegawai istana (Yohanes 4:46-54)

Seringkali, sebagai orang Kristen, saya dan anda mungkin seringkali mengalami kondisi iman yang goyah.
Di satu sisi kita percaya dengan kuasa TUHAN Yesus, tapi di sisi lainnya kita tidak percaya TUHAN Yesus bisa bekerja dengan caraNya yang seringkali melampaui akal dan pikiran kita yang sempit. Parahnya lagi, seringkali malahan kita seringkali mendikte TUHAN harus begini, harus begitu. Inilah bukti bahwa iman kita hanya setengah-setengah. Bagi TUHAN, itu sama saja tidak percaya.

Saudara-saudara pembaca yang terkasih, kita mesti menyadari bahwa Allah itu ROH, Dia tidak terikat dengan waktu (omnipresent), tempat dan metode-metode manusia. Dia tidak dapat didikte dan tidak boleh kita dikte, Dia itu bekerja melampaui akal dan pikiran manusia. Rasul Paulus menulis:


Efesus 3:18-19 > Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.


Melalui artikel ini, saya mengajak kita semua untuk belajar membetulkan konsep-konsep yang salah yang mungkin selama ini kita anut. Kita bisa belajar dari perikop Yesus menyembuhkan anak pegawai istana yang sangat kontras imannya dengan kisah seorang perwira di Kapernaum. Berikut ini ciri-ciri iman setengah-setengah yang dimiliki oleh si pegawai istana tersebut.

1. MEMAHAMI TUHAN DENGAN KONSEP YANG SALAH (Yoh 4:46-47)

Kisah ini dimulai dengan disampaikannya informasi bahwa Yesus berada di Kana di mana Dia pernah melakukan mukjizat di salah satu pesta perkawinan Dia mengubah air basuhan menjadi anggur sedangkan pegawai istana tersebut tinggal di Kapernaum. Mungkin dari cerita-cerita dari mulut ke mulut si pegawai istana ini mendengar bahwa TUHAN Yesus sanggup melakukan mukjizat dengan mengubah air jadi anggur ketika Yesus hadir di pesta tersebut sehingga membentuk di pikiran dari pegawai istana tersebut bahwa Yesus secara fisik harus hadir di tempat di mana Dia melakukan mukjizat.

Orang-orang Israel di zaman kuno pun selalu menganggap bahwa jika berperang, maka tabut TUHAN harus berjalan di depan mereka sehingga jika tidak dibawa, maka kalahlah mereka di medan perang. Konsep ini berhasil diubah pada masa kepemimpinan Daud di mana dia ketika berperang melawan musuh-musuh Israel, di kitab-kitab PL tidak saya temukan Daud membawa tabut TUHAN.

Di zaman modern di mana kita bisa membaca Alkitab pun seringkali kita menjadi serupa dengan pegawai istana tersebut. Seringnya kita menganggap bahwa TUHAN harus bekerja menurut metode-metode tertentu atau jika tidak sesuai dengan pengalaman rohani pak pendeta, TUHAN sepertinya tidak bekerja atau tidak afdol. Ada yang menganggap TUHAN hanya menyembuhkan jika berdoa sekian kali, ada yang mengajarkan bahwa TUHAN lebih bekerja melalui minyak urapan, dll.

Dari cerita-cerita di keempat Injil jelas kita menemukan bahwa TUHAN bekerja tidak sesuai dengan konsep manusia.
Kuasanya bisa bekerja kapan saja, di mana saja, melalui siapa saja, melalui apa saja, kepada siapa saja tanpa didikte oleh manusia. Silahkan buka dan baca Alkitab, maka anda akan temukan kedaulatan kuasa TUHAN.

2. PERCAYA HANYA KALAU ADA TANDA DAN MUKJIZAT (Yoh 4:48)


Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." (Yoh 4:48)


Poin inilah yang fatalnya sering terjadi, bahkan konsep inilah yang banyak dianut dan diajarkan oleh pendeta-pendeta sekarang. Saat ini di mana pengajaran gereja begitu variatif, muncul konsep-konsep yang mengarahkan jemaat untuk tidak percaya sungguh-sungguh kepada TUHAN.
Jemaat diarahkan mata rohaninya untuk selalu terpaku kepada TANDA dan MUKJIZAT. Hal ini justru tidak mengarahkan jemaat ber-IMAN kepada TUHAN, tetapi fokus diarahkan kepada TANDA dan MUKJIZAT.


1 Kor 15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.


Seringkali kita mendengar atau bahkan kita sering mengucapkan : "kalau saya diberkati secara finansial, baru saya layani TUHAN...", "kalau usahaku diberkati TUHAN, aku akan layani TUHAN ..." , "kalau ayahku sembuh, maka saya akan percaya kepada TUHAN..".
Biasanya setelah mereka diberkati, kita lupa akan TUHAN dan janji-janji kita. Lidah memang tak bertulang.

Kita harus buat keputusan, mau mulai darimana kita? IMAN dulu atau kalau sudah melihat TANDA dan MUKJIZAT baru percaya !
Golongan manakah kita?

3. MEMAKSA TUHAN WALAUPUN TAHU KONSEP YANG DIPEGANG SALAH (Yoh 4:49)


Yoh 4:49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati."


Sebenarnya TUHAN sudah ingatkan pegawai istana ini tentang ketidakpercayaannya, tapi pegawai istana tersebut terus memaksa bahwa TUHAN harus datang ke rumahnya. Kita pun sering melakukan hal ini, bahkan dengan ancaman-ancaman ! Jika TUHAN tidak jawab doaku, aku tidak akan lagi baca Alkitab, jika TUHAN tidak berikan gadis itu, maka aku tidak akan ke gereja lagi.
Bahkan mungkin kita sering protes, TUHAN bukankah aku sudah melakukan ini dan itu... dsb...dsb...

Pegawai istana ini pun mungkin berpikir dan berkata dalam hati , aku ini adalah pegawai istana loh! Jangan paksa TUHAN dengan konsep kita yang salah lalu kita terus memegangnya. Pegawai istana ini berkata "Datanglah" (ayat 49) , Yesus menegornya "Pergilah!" (ayat 50).
Siapakah kita ini?

Apakah kita orang yang jika terjadi apa-apa di rumah, harus selalu undang pak pendeta? Kalau beliau tidak datang serasa doa kita tidak didengarkan oleh TUHAN? Mari kita ubah konsep yang salah !

4. MENYANGSIKAN PERTOLONGAN TUHAN (Yoh 4:51-52)


Yoh 4:51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.
Yoh 4:52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."


Pegawai istana ini, meskipun sudah dikatakan oleh Yesus bahwa anaknya sembuh ("Pergilah, anakmu hidup!"), namun sekali lagi dia meragukan keilahian kuasa TUHAN Yesus. Sekali lagi dia harus konfirmasi tepatnya PUKUL BERAPA ANAK ITU SEMBUH.

Saya rasa, banyak di antara kita pun mengalami keraguan-raguan akan kuasa TUHAN. Mungkin seringkali keajaiban TUHAN kita anggap sebuah kebetulan belaka. Bahkan kalau kita tidak hati-hati, kita menjadi orang yang tidak mampu berucap syukur atas berkat-berkat yang sehari-hari kita nikmati. Kesehatan kita yang sudah TUHAN jaga kita anggap sebuah TANGGUNG JAWAB TUHAN sehingga kita malahan menjadi orang yang sering bersungut-sungut.
Udara yang segar di pagi hari, kesehatan keluarga, kecukupan makan harus kita syukuri sebagai MUKJIZAT TUHAN sehingga kita bisa menjadi manusia yang penuh ucapan syukur.


Saudara sekalian, pegawai istana ini memang datang kepada TUHAN YESUS, dia memang percaya dengan kuasanya, tetapi dia tidak percaya kalau TUHAN mampu bekerja walaupun tanpa hadir ke rumahnya. Saya yakin kita pun percaya dengan kasih dan kuasaNya, tapi kita pun punya konsep-konsep yang salah seperti poin-poin di atas.


Yoh 4:47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.


Sekali lagi mari kita ingatkan diri kita dengan ayat terkenal ini:


Ibrani 11:1 - "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."


Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibrani 1:6), lalu apakah kita berharap kita bisa berkenan di hadapan Dia?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar