Sabtu, 05 Maret 2011

Doktrin Kemakmuran & Penyembahan Kepada Mamon


"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.
(Matius 6:19-20)


Di akhir zaman ini, di mana keadaan kehidupan manusia bertambah sukar, terutama secara EKONOMI, popularitas pengajaran yang bertumpu pada mukjizat pun ikut terdongkrak. Paham prosperiti atau doktrin kemakmuran yang diajarkan di gereja menjadi daya tarik tersendiri, apalagi di negara Indonesia yang mayoritas rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Adalah sifat dasar manusia yang lahir menyukai kesuksesan instan juga menjadi kelemahan yang bisa disusupi oleh praktek mamonisme tersebut. Dengan mengambil sebagian ayat Firman TUHAN ataupun dengan khotbah-khotbah berisi kesaksian-kesaksian pribadi yang mengalami "berkat dari TUHAN", maka legitimasi pengajaran doktrin kemakmuran bertumbuh subur.

TUHAN, Bapa kita yang baik memang mengizinkan dan bahkan mengharapkan anak-anakNya hidup tidak berkekurangan, tetapi TUHAN Yesus melalui pengajaranNya berkali-kali memperingatkan supaya manusia tidak menjadi tamak. Bahkan Dia mewanti-wanti audiencenya (dan kita yang membaca Injil) supaya tidak jauh dalam "penyembahan Mamon".

Jika seandainya TUHAN Yesus memfokuskan pengajarannya pada pemenuhan harta di muka bumi, maka tentulah Dia dan para rasulNya hidup dalam kemewahan.
Melegitimasi karya mukjizat Yesus ketika memberikan makan kepada 5000 dan 4000 orang sebagai salah satu azas teori kemakmuran adalah salah kaprah. Kita mesti melihat bahwa justru TUHAN YESUS mengizinkan KEKURANGAN MAKAN terjadi pada saat itu, apalagi mukjizat itu terjadi pada saat yang terdesak di mana TUHAN Yesus tidak ingin ada rombongan orang yang mengikutinya menjadi pingsan di tengah jalan.
Bahkan ketika TUHAN Yesus mengetahui bahwa fokus orang-orang yang mencariNya tersebut hanya untuk MUKJIZAT ROTI, Dia mengirimkan mereka pulang.


Mukjizat terjadi jikalau TUHAN menilai manusia memang sudah tidak sanggup lagi. Mukjizat tidak akan terjadi ketika manusia mampu melakukan bagiannya karena mukjizat bukanlah barang murahan.


Orang-orang seperti Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus adalah orang teruji. Sesudah diberkati Yesus dengan MUKJIZAT KELIMPAHAN IKAN yang menyebabkan jala hampir pecah, mereka justru melepaskan tangkapan mereka dan ikut Yesus.
Mereka tidak memfokuskan kepada kelimpahan berkat jasmani yang sementara tersebut. Oleh karena sikap hati tersebut, Yesus begitu menghargai Petrus dengan menjanjikannya sebagai penjala manusia (artinya JIWA-JIWA MANUSIA lebih berharga daripada IKAN)

Paulus, seorang rasul yang dipanggil TUHAN dari kemewahannya menjadi rasul yang sering mengalami penderitaan ketika mengabarkan Injil adalah bukti nyata lain di Alkitab. Jika menilik kepada tokoh-tokoh iman di Perjanjian Lama-pun, kita bisa meneladani "pengorbanan Abraham" dan "penderitaan Ayub".

Abraham, ketika dipanggil dari tanah Ur (kota Ur-Kasdim), beliau adalah konglomerat yang hidup berkelimpahan dengan ratusan orang hamba yang menjadi pelayanan rumah tangganya. Dia rela meninggalkan kota yang nyaman tersebut dengan tanpa tahu tujuan yang jelas dari panggilan TUHAN Allah. Bahkan di Alkitab dikatakan bahwa dia tidak mendapatkan tanah yang dijanjikan di dunia ini. Tetapi apa yang didapatkannya adalah TANAH YERUSALEM SORGAWI.


Ibrani 11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.


Ayub, memang diberkati oleh TUHAN secara duniawi, tetapi ada saatnya dia dicobai dengan sangat keras, dia bisa bersaksi bahwa apa yang didapatkan di dunia ini adalah sementara.


Ayub 1:21 katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"


Saudara-saudari, Yesus Kristus mengajarkan supaya kita berdoa meminta berkat makanan secukupnya pada hari ini, tidaklah Dia mengajarkan kita menjadi tamak karena di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. (Matius 6:21)


Mat 6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Luk 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya


Jikalau fokus hidup kita lebih condong kepada pengejaran harta dunia yang sementara ini, maka sesungguhnya kita sudah menyembah kepada Mamon. Untuk hal ini, Yesus Kristus telah memperingatkan kita ! Sekali lagi menjadi pengikut Kristus bukan berarti menolak berkat ataupun harus hidup miskin, tetapi fokus pengejaran "harta" itu menjadi faktornya. Apakah mengejar HARTA DUNIAWI? Ataukah HARGA SORGAWI.

Jikalau fokus kita adalah mengejar harta dunia, kita menurut nas Alkitab adalah orang paling malang di dunia ini (1 Korintus 15:19).
Semakin manusia hatinya menimbun harta, ketamakan akan semakin merajalela, akhirnya dari situlah timbul benih-benih cinta uang, dan sebagaimana kita tahu,
problematik dunia ini pada dasarnya adalah CINTA UANG.


1 Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.


Jika anda saat ini masih hidup dalam kekurangan, mintalah kepada TUHAN dan berusahalah sungguh-sungguh untuk bekerja. Dan jangan minta TUHAN untuk "mengubah batu jadi roti" (jangan berharap pada hal-hal yang instant, termasuk pengajaran kekayaan yang instant).

Dia pasti akan memberkatimu ! Tetapi Dia tidak menjanjikan kekayaan duniawi. Jika anda bisa kaya karena anda bekerja keras, puji TUHAN!

Dan kekayaan tersebut jangan dipergunakan untuk memenuhi kedagingan semata tetapi berkontribusilah kepada kerajaan TUHAN seperti raja Daud ketika hidupnya diberkati kelimpahan (1 Tawarikh 29)

Saudara-saudari, jangan mengukur keimanan seseorang dengan ukuran harta yang dimiliki seseorang. Tetapi kekayaan seseorang diukur daripada KERELAANNYA MEMBERI.
TUHAN pun sudah memperingatkan, orang kaya susah masuk sorga. Jadi, jangan menghakimi seseorang kalau dia miskin ataupun biasa-biasa saja.

Sekali lagi, ARAHKAN FOKUS kita kepada HARTA SORGAWI, bukan HARTA DUNIAWI.

Mari kita renungkan kembali nasehat rasul Paulus:


1 Timotius 6:3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat--yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus--dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,
1 Timotius 6:4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,
1 Timotius 6:5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
1 Timotius 6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
1 Timotius 6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
1 Timotius 6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
1 Timotius 6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
1 Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
1 Timotius 6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
1 Timotius 6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.
1 Timotius 6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:
1 Timotius 6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,
1 Timotius 6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
1 Timotius 6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.
1 Timotius 6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
1 Timotius 6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
1 Timotius 6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar