Sabtu, 23 Oktober 2010

Hasil Yang Tidak Terduga (Hakim-Hakim 6:25-32)

Maybe We Are Small, But Not Still Remain Small



Kisah Gideon di dalam kitab Hakim-Hakim merupakan gambaran dari kisah seorang anak manusia biasa yang dipakai TUHAN dengan dahsyat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita semua bahwa siapa pun di dunia ini bisa dipakai oleh TUHAN untuk KerajaanNya asalkan kita mempunyai kerinduan yang besar seperti dimiliki oleh Gideon.

Siapapun kita dan dalam keadaan apapun, TUHAN dapat bisa memakai siapa saja. Di dalam kisah-kisah pahlawan iman, TUHAN sering kali memakai orang yang dipandangan manusia adalah orang-orang yang tidak terpandang. Anda bisa baca dari kisah hidup Musa, Yosua, Yefta, Daud, Elia, Yeremia dan Petrus. Mereka-mereka adalah orang yang sungguh tidak ada apa-apanya di pandangan manusia. Begitu juga halnya Gideon yang kita bicarakan kali ini.

Gideon berasal dari keluarga dari suku yang kecil yaitu Manasye (jika dibandingkan dengan Lewi, Efraim dan Yehuda), bahkan kaum yang paling kecil, dan diapun orang paling muda di keluarganya.


Hakim-Hakim 6:15 Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku."


Tapi pemilihan yang dari TUHAN tidak pernah salah, TUHAN tidak pernah menilai manusia dari luar. Dia sudah melihat jauh ke masa depan kita sebelum kita menyadari itu semua. Asalkan kita punya kerinduan (istilah yang dipakai hamba-hamba TUHAN saat ini adalah terbeban), maka tidak ada perkara yang mustahil bagi Dia dan bagi kita.


Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1 Korintus 1:27-29)


Di dalam kisah pemilihan Gideon ini, TUHAN telah lebih dahulu menetapkan Gideon sebagai seorang pahlawan yang gagah berani sebelum dia menyadari keadaan itu.


Hakim-Hakim 6:12 Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani."


Kita sebagai umat percaya Perjanjian Baru juga telah diangkat menjadi pahlawan-pahlawan gagah berani miliknya TUHAN.Bahkan kita dikatakan sebagai "Imamat yang Rajani".
Jika di Perjanjian Lama, pemilihan-pemilihan hanya ditunjuk kepada orang-orang tertentu saja untuk melaksanakan misi dari sorga, maka di Perjanjian Baru, semua orang percaya diberikan kuasa!



Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18-20)


Apakah anda berkerinduan menjadi "Gideon-Gideonnya" TUHAN? Jika ya, maka belajarlah dari cara Gideon merespon panggilan TUHAN. Setelah perjumpaannya dengan malaikat TUHAN pada siang hari dimana Malaikat TUHAN menunjukkan segala mukjizat dan tanda heran yang begitu menyakinkan (baca di Hakim-Hakim 6:12-24), tentunya tantangan-tantangan selanjutnya telah menanti.

Ingatkah anda pada saat pertama kali menerima Yesus sebagai TUHAN dan Juruselamat? Biasanya pada saat-saat tersebut adalah momen perjumpaan bersama TUHAN yang begitu indah, ada kasih yang besar timbul dalam diri kita.
Ada keyakinan teguh akan keselamatan di dalam diri kita. Orang menyebutnya KASIH MULA-MULA. Tapi biasanya, jika orang percaya tidak hati-hati, kasih itu bisa dengan cepat menjadi pudar ketika tidak menjaga pikiran dan hati.
Dakwaan-dakwaan setan, masalah-masalah di keluarga, di kerjaan ataupun dengan teman dapat sekali mempengaruhi iman kita. Untuk itulah, respon yang cepat menanggapi panggilan TUHAN dibutuhkan.

Begitu juga halnya Gideon, setelah perjumpaan di siang hari, malam hari TUHAN langsung memberikan sebuah misi kecil yang harus diemban.
Misi itu adalah untuk meruntuhkan Baal kepunyaan ayahnya. Tantangan juga kita hadapi sebagai orang percaya di zaman ini. Tantangan besar seringkali adalah berasal dari keluarga kita. Orang-orang Kristen yang berasal dari keluarga yang bukan Kristen atau pun bukan orang Kristen yang sungguh taat biasanya mendapatkan tantangan dari keluarga. Ke gereja dilarang, ke persekutuan dilarang, mau melakukan kegiatan rohani pasti ditentang habis-habisan, sedangkan kalau nonton ke bioskop atau jalan-jalan ke mal mungkin direstui. Ujian dan halangan dari keluarga harus kita lewati supaya kita bisa ke depannya bisa dipakai oleh TUHAN dengan lebih lagi.

Pada tantangan TUHAN kepada Gideon setelah perjumpaan pertama kali adalah meruntuhkan Baal milik ayahnya. Seperti yang diceritakan di kitab Hakim-Hakim, ayah Gideon, Yoas adalah seorang yang sangat terpandang dan punya wibawa serta berpengaruh bukan hanya di keluarga, tapi juga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Mungkin di dalam keluarga kita, terutama ayah dan ibu belum percaya kepada Yesus sebagai TUHAN dan JURUSELAMAT. Mungkin mereka adalah orang-orang yang justru adalah "penentang-penentang Kristus" di dalam diri mereka dan orang-orang mengenal mereka sebagai orang yang menentang iman Kristen. Mungkin saja mereka adalah pemimpin agama lain. Di sinilah TUHAN justru ingin memakai kita untuk memenangkan mereka.
Apakah anda membayangkan bagaimana hasilnya ketika mereka dibawa percaya kepada TUHAN ?

Gideon dengan segala kekurangannya mampu menjalankan misi yang diberikan TUHAN kepadanya dengan hikmat yang diberikan kepadanya yang direspon dengan imannya.


1. Melakukan Secara Kolektif Bersama Orang Seiman (Hakim-Hakim 6:27)


Hakim-Hakim 6:27 Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya.


Gideon tahu misi yang diembannya adalah berat. Maka dari itu, dia tidak melakukannya sendiri sebuah usaha meruntuhkan Baal dan mentransformasi mezbah Baal menjadi mezbah TUHAN. TUHAN Yesus di dalam pelayananNya menunjukkan teladan pelayanan kolektif. Tidak ada ONE MAN SHOW di dalam mengikuti TUHAN.

Musa sekalipun orang yang diberikan kuasa yang besar, namun juga tetap membutuhkan partner yaitu Harun. Paulus yang pelayannya begitu luar biasa juga disupport oleh Lukas dan Timotius. Kita sebagai umat percaya di PB juga diberikan komunitas yang bernama gereja. Dari gereja kita bisa mendapatkan teman sehati dan sepelayanan yang bisa diyakini membantu kita bersama-sama memenangkan orang-orang yang "dibebankan" di dalam hati kita.

2a. Melakukan meskipun takut


Hakim-Hakim 6:27 - Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.


Jangan jadikan ketakutan menjadi halangan mengikuti TUHAN. Bukankah kita sering mendengar "Jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita" ?
Jangan biarkan manusia lama menjadi musuh yang menghancurkan kita. Ingatlah saudara-saudara, penakut, sundal tidak bisa masuk ke kerajaan Sorga. Di dalam kasih tidak ada ketakutan, ketakutan bukanlah bagian dari kasih.

Jika kita mengalami ketakutan, berdoalah seperti Yesus yang berdoa di taman Getsemani. Berdoa bukan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, tapi berdoa untuk meminta kekuatan untuk memikul tanggung jawab.
Ketika kita Yesus menerima tanggung jawab untuk menebus dosa manusia di atas kayu salib pun, dia harus berdoa dan bergumul di taman Getsemani. Tapi yang bisa kita dapatkan dari kedua tokoh ini baik Yesus maupun Gideon adalah MEREKA TETAP MELAKUKANNya.

Semoga Mazmur Daud ini menjadi penguatan bagimu:


Mazmur 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.


Bacalah Firman TUHAN (Alkitab), teladanilah teladan para pahlawan iman dan kamu akan beroleh kekuatan !

2b. Melakukan pada situasi yang tepat (timing yang tepat)


Hakim-Hakim 6:27 - Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.


Di pandangan TUHAN, waktu bukan masalah jika hati kita benar-benar mau melakukan perkaraNya. Mungkin awalnya kita tidak melakukan perkara TUHAN karena kurang pemahaman, kurang arahan, kurang iman ataupun tidak siap dengan segala dalihnya.
Tetapi pada akhirnya kita bertobat dan menyadari kekeliruan kita, saat itulah kita harus bersungguh-sungguh melakukannya dan jangan ada penundaan lagi.
Kita bisa menilai situasi mana yang tepat untuk melakukan segala sesuatu yang baik. Mungkin kita takut untuk membagikan Injil kepada teman-teman kita yang tidak seiman di pagi atau siang, carilah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Jika itu orang tua kita, cari waktu yang agak santai untuk memberitakan Injil sehingga ketika hati mereka siap dan waktunya TUHAN, maka mereka bisa terima Yesus sebagai TUHAN dan JURUSELAMAT pada saat tersebut.


"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Mat 21:28-31)


Ketika Gideon dengan setia melakukan segala sesuatu Firman TUHAN, maka kita bisa lihat hasilnya:

Hakim-Hakim 6:28 Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu.
Berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Siapakah yang melakukan hal itu?" Setelah diperiksa dan ditanya-tanya, maka kata orang: "Gideon bin Yoas, dialah yang melakukan hal itu." Sesudah itu berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas: "Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya." Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: "Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang." Dan pada hari itu diberikan oranglah nama Yerubaal kepada Gideon, karena kata orang: "Biarlah Baal berjuang dengan dia, setelah dirobohkannya mezbahnya itu."
(Hakim-Hakim 6:29-32)


Kita juga, mungkin di dalam pikiran kita, sebelum melakukan tugas TUHAN, pikiran dan hati kita menghakimi kita, memberikan keputusasaan sebelum kita melangkah, tapi iman melampaui segala pikiran manusia. Hasil yang pada awalnya kita mungkin ditolak, dipukul, diusir, dilecehkan atau mungkin dibunuh, tapi kita setia melakukan meskipun takut, hasil yang tidak terduga didapati kita. Bukankah TUHAN beserta kita ketika kita setia melakukan tugasnya?

"SAUDARA-SAUDARA, BERTINDAKLAH BUKAN BERDASARKAN PIKIRAN, TAPI BERTINDAKLAH DENGAN IMAN, MAKA HIKMAT TUHAN DICURAHKAN BERLIMPAH-LIMPAH KEPADA KITA."


1 Korintus 2:9 Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar