Senin, 25 Oktober 2010

Kebaikan vs Kebenaran



Pernahkah anda jalan-jalan ke pasar kemudian saat sedang melihat-lihat, lalu ditawarkan membeli sesuatu kemudian karena anda merasa kasihan andamembeli barang yang ditawarkan tersebut?
Atau mungkin saat di tengah jalan, ketika melihat "pengemis" , kita memberikan "sedekah". Apakah kita sudah berbuat baik? Ya, tapi apakah kita sudah berbuat benar? Belum tentu.

Kebaikan-kebaikan kita yang didasari oleh hati nurani memang baik dan saya yakin TUHAN pun akan mempunyai pertimbangan terhadap kebaikan yang didasarkan pada hati nurani tersebut.

Tetapi hati nurani manusia pada saat tertentu bisa disalahgunakan bahkan mungkin seringkali salah, baik alokasinya, timingnya, sasarannya.
Bantuan-bantuan kita bisa dimanipulasi oleh orang yang berlaku licik. Realita mengungkapkan bahwa pengemis-pengemis di jalanan ternyata juga dimanipulasi oleh sindikat-sindikat yang memang mempekerjakan pengemis untuk memperkaya diri kita.

Sumbangan-sumbangan dari rumah ke rumah yang katanya ditujukan untuk bantuan yayasan yatim piatu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Yesus telah memperingatkan kepada pengikut-pengikutNya, yaitu kita supaya tidak terjebak di dalam ketulusan yang salah.


"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.(Mat 10:16)"


TUHAN Yesus tidak hanya ingin kita tulus, tapi juga cerdik. Dia tahu bahwa kondisi umat manusia pada akhir zaman akan dipenuhi kepalsuan-kepalsuan yang didasarkan kelicikan-kelicikan belaka. Serigala adalah binatang buas yang pintar menyamar di kawanan domba. Jadi, kalau kita tidak hati-hati, ketulusan yang didasari "hati nurani" bisa dimanipulasi dan akhirnya kita menyalahkan diri sendiri, orang lain bahkan menyalahkan TUHAN.

Di dalam pelayanan Yesus selama 3,5 tahun pun, Yesus pun menyadari bahwa orang-orang miskin selalu ada di sekitar orang-orang percaya dan itu akan eksis sampai nantinya.


"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. (Mar 14:7)"


Yesuspun senantiasa memberikan "ujian hati" kepada pengemis buta yang akan disembuhkanNya. Dia ingin menguji pilihan mereka, apakah pilihan mereka untuk kesembuhan mata atau untuk mencukupkan diri dengan meminta uang dari Yesus.


Mat 20:32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"
Mat 20:33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat."
Mat 20:34 Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.


Pelayanan Petrus pun begitu, ketika ada pengemis lumpuh yang meminta sedekah padanya, dia tahu bahwa jawaban untuk orang lumpuh ini adalah bukan persoalan uang semata, tapi di kakinya. Dengan kesembuhan kakinya, dia bisa mencari uang, tetapi tentunya kesembuhan ilahi sehingga orang tersebut bisa memuliakan nama TUHAN dan menjadi kesaksian bagi banyak orang.


Kis 3:3 Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.
Kis 3:4 Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami."
Kis 3:5 Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka.
Kis 3:6 Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"
Kis 3:7 Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.


Renungkanlah masalah-masalah tersebut di atas, jangan sampai karena kita didorong karena hati nurani yang salah, kita menjadi salah di dalam memberi sehingga justru menjerumuskan orang lain kepada hidup yang lebih jauh dari kebenaran. Seorang ayah atau ibu yang baik tidak akan memanjakan anaknya dengan memberikan kepada kita apa saja yang anaknya minta, tetapi mereka akan menjadi bijak jika mereka memberi apa yang anaknya butuhkan.

Yesus secara tersirat mengajarkan supaya kita menjadi jawaban atas kebutuhan jasmani yang paling dasar dari manusia.


Mat 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
Mat 25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.


Lapar, haus, kesepian, keterlanjangan, sakit, penguatan adalah hal-hal mendasar yang MESTI kita berikan jawaban.

Jangan juga kita memberi pertolongan atas dasar ingin menyenangkan orang, takut nggak enak hati, takut nanti dibilang kita pelit, takut nanti tidak ada teman. Itu bukan sebuah kebenaran. Kita harus memilih, ingin menyenangkan TUHAN atau menyenangkan manusia.


Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. (Kis 4:19)


Ingat satu hal saudara-saudara, orang miskin itu acapkali terletak pada mentalitasnya, bukan realitanya.

KEBUTUHAN PALING MENDASAR MANUSIA

Realita di dalam dunia seperti kita tahu dipenuhi dengan orang-orang miskin dan jika kita mempunyai hati mereka, tentulah kita tidak mungkin mengerjakan ini semua. Bencana-bencana alam, korupsi, pencurian, penindasan dan ketidakadilan manusia adalah faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan itu terjadi.
Bencana-bencana alam pun seringkali terjadi karena faktor manusia yang melakukan illegal logging, eksplorasi minyak yang berlebihan, penambangan dan semua kegiatan yang diakibatkan keserakahan manusia yang menyebabkan ekosistem secara global berubah.

Nah, dari paparan di atas kita tahu sebenarnya ada akar masalah yang harus dibereskan. DOSA-lah yang menyebabkan semua hal itu terjadi. Di sini kita bisa lebih jelas lagi bahwa bukan semata-mata uang adalah jawaban persoalan manusia, tapi DOSA tersebut yang harus dibereskan.

Manusia harus dilepaskan dari dosa, itulah solusinya. Orang-orang harus diajarkan suatu kebenaran dan biarlah kebenaran itu yang memerdekakannnya.


"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.(Yoh 8:31-32)"


Sejarah mencatat perjalanan Injil yang ajaib yang benar-benar mengangumkan. Dahulu Eropa adalah negara-negara barbar sebelum mengenal pemberitaan Injil. Bangsa-bangsa di Skandinavia yang dulunya termasuk orang-orang yang paling ganas di dunia bisa berubah total semenjak Injil masuk di sana.

Di Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Swiss, dan beberapa negara lainnya setelah Injil diberitakan di sana, mereka tumbuh menjadi negara-negara makmur dengan kemampuan untuk menciptakan teknologi-teknologi yang luar biasa. Nokia, Ericsson, Volvo yang terkenal di Indonesia adalah produk dari kecerdasan mereka.


Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2 Korintus 3:16-17)


Kabarkan Injil kepada semua orang untuk kebaikan mereka dengan tulus, bukan dengan kelicikan sehingga mereka pun bisa menjadi hak waris atas kerajaan Allah menjadi anakNya sehingga ketika mereka sudah menjadi anak, maka pemeliharaan akan datang dari Bapa di sorga. Kiranya pertumbuhan iman terus dialami oleh pembacaan Alkitab sehingga kita bisa membedakan mana yang baik, mana yang berkenan dan mana yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar