Senin, 06 April 2009

Gereja Boleh Berpolitik ?

Politik dari dunia kekristenan merupakan respon dari gagalnya tanggung jawab sosial yang diemban gereja sebagai terang dan garam dunia pada zaman ini.

Berbicara mengenai politik, memang berbicara mengenai perwujudan kebaikan bersama kepada masyarakat, tetapi berbicara mengenai politik, kita juga jangan melupakan unsur kekuasaan, koalisi, kompromi dan juga tipu muslihat . Pertanyaannya adalah apakah gereja bisa terus konsisten untuk tidak tercemar oleh hal-hal seperti itu?

Ingat ! Terang dan gelap tidak dapat bersatu, sedikit ragi mengkhamirkan seluruh adonan. Jangan menjamah yang najis, jangan berzinah !

Mungkin di Alkitab terdapat kisah-kisah yang menceritakan mengenai beberapa tokoh, terutama di Perjanjian Lama yang mengisahkan bagaimana beberapa tokoh yang mempunyai tokoh dan bahkan dekat dengan penguasa.

Dari beberapa nama ada nama Yusuf anak Yakub, Ester dan Mordekhai, Nehemia, Ezra, Daniel. Tapi dalam kasus tsb, TUHAN yang mengangkat mereka, bukan mereka mengangkat diri sendiri, bahkan diangkat rakyat. Ingat juga, ketika rakyat Israel meminta seorang raja, hati TUHAN begitu pilu dan sedih. Musa bahkan dipakai secara efektif bukan di dunia politik. Jika seandainya TUHAN ingin memakai Musa di dunia politik, tentunya secara nalar manusia, kedudukan Musa yang diangkat sebagai anak puteri Fir'aun sangat memungkinkan bagi Musa untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang menguntungkan untuk kepentingan umat TUHAN saat itu yang ditindas Fir'aun.

Misi utama dari yang paling utama oleh para tokoh Alkitab seperti Yusuf, Ester, dkk sudah tercapai ketika Mesias lahir sesuai dengan yang dinubuatkan.

Dari Perjanjian Baru, TUHAN YESUS sendiri merupakan korban politik dari para tua-tua dan ahli Taurat (Yohanes 11:46-51) . Rasul Paulus sendiri adalah mantan orang "politik". Selain itu, tidak ada nama yang berkecimpung di dunia politik.

Gereja harus memisahkan diri dari dunia politik, tapi dari luar gereja harus mempengaruhi dengan memberikan dampak yang bisa dirasakan buahnya oleh masyarakat.
Gereja adalah tools yang dipakai oleh TUHAN dari semula untuk menyelamatkan umatNya, bukan negara.

Coba bayangkan kalau pribadi demi pribadi diubahkan, keluarga demi keluarga, RT demi RT, Kelurahan demi Kelurahan, Kecamatan demi Kecamatan, Kabupaten demi Kabupaten, Provinsi demi Provinsi, maka negara akan diubahkan secara otomatis.

Politik jangan dijadikan pelarian atas kegagalan gereja yang tidak bisa dijadikan jawaban. Saat ini gereja hanya menjadi tempat menservis hati, biro jodoh, tempat berdagang dan tempat gosip, amanat agung TUHAN YESUS tidak dijalankan, coba gereja bisa kembali berfungsi seperti zaman gereja mula-mula, maka wibawa gereja akan disegani tanpa harus bersinggungan dengan dunia politik, banyak hidup diubahkan.

Pernahkah membayangkan kalau secara politik, partai Kristen mendapatkan suara mayoritas di DPR? Ya, seandainya itu terjadi, mungkin anda senang, saya pun senang.
Tapi pernahkah terbayangkan efek negatifnya? Apalagi kalau seorang presiden dari orang Kristen di republik tercinta ini? Mungkin pemberontakan terjadi di mana-mana seperti yang terjadi Thailand selatan, teroris akan membidik negara tercinta kita, integritas bangsa terancam. saya tidak mengada-ada, kita bisa lihat bibitnya sekarang ini.

Tapi tentunya bukan berarti tidak ada seorangpun Kristen yang duduk di parlemen atau di eksekutif maupun yudikatif, tapi secara fungsi secara kolektif tetap ada pada gereja, bukan melalui partai politik. Gereja adalah maksud abadi TUHAN ALLAH untuk menyelamatkan manusia.


Efesus 3:8 Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,
Efesus 3:9 dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu,
Efesus 3:10 supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga,
Efesus 3:11 sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar